Showing posts with label Opinion. Show all posts
Showing posts with label Opinion. Show all posts

Indonesian Women - We Don't Aim to Make Men Feel Intimidated: An Opinion




As one of those people who live abroad, social media is a tool for us to keep ourselves updated about what's happening in Indonesia (including those Instagram-worthy pictures of delicious foods from new hipster places :p). Until yesterday, I was scrolling down my timeline then stumbled upon a post from Henry Manampiring (whom I've been following on Twitter for years) on how Indonesian women still have to deal with tough choices before deciding to get higher education, of course, influenced by the notion that "women will end up in the kitchen, anyway, so what's the point?" or "higher education would sadly lower a chance for woman to find a husband". What a common (and shallow) view I've been hearing in my whole life.

A very well written opinion from a man's perspective and in my humble wish, I hope more men will perceive educated women not as a threat, but more like a co-pilot they can work with to control the plane, to make everything works. I have this ideal picture in mind that a marriage should function like an airplane. We start at the same point, we plot the routes, we share the same destination. The farther the destination, the longer the routes, the bigger the risk of having troubles, we all know that. Husband and wife relationship should work like pilot and co-pilot, not pilot and stewardess, or even scarier, pilot and passenger. 

Okay, stop. People may point at me and say, "you are not married yet, you don't know how it actually feels". Again, this is only an ideal view that I keep in my mind.

Two years ago, I decided to pursue my master's degree and left my country. At that point, I didn't hear any negative judgement regarding my decision from my surroundings. Later I know, it was probably because I grew up in an environment where women are seen equal to men in the context of education and career. Last year, I was on my way from Jakarta to Dubai where I sat next to a mid-aged woman who was on her way to do Umrah (a pilgrimage to Mecca by Muslims). She's from Pelabuhan Ratu (a small region in West Java) and we had a very warm conversation along the way. She asked me where I was going and my heart was shaking after I answered, "to Germany".

"Itu dimana, Neng? Neng nggak takut?" ("Where is it? Aren't you afraid?"), she looked curious.
I felt like the right answer should not just be, "No, I am not".

I am fully aware that sadly, only few women in my country have this courage to say, "No, I am not" if they were asked whether they're afraid or not to take high risks in their lives. Sad to be told, Indonesian society is a complex structure consists of many identities which then contributes to some limitation for women. Not only from the level of education, but also from cultural aspects. I may feel fine because I was raised by a woman who was previously a banker and got married in her late 20s, for example. But what about those who live their lives without even having a choice?

It is still a long way to say "No, I am not" then turns to "Yes, I will take the risks" for some Indonesian women. As mentioned in the post, an ideal scenario of having men and women equal in the context of education and career would hopefully lead to progression of society as a whole may remain a dream for now. As for me, what I can do now (starting from this blog post) is trying to move conventional notion that getting higher education for women will be useless and may that shallow thinking be shifted in a better way.

From what I believe, men and women have their own portion in life. That is why, personally, I could not fully agree on what feminism contains, especially the liberal ones. But I will certainly be on the front line defending the right for women to get education without having any cynical judgement about their choices.

That we don't aim to make men feel intimidated and insecure. The only thing we're looking for is a chance for intellectual growth that we will pass on to our children and see the huge differences in this nation later on.

Wouldn't that be an ideal scenario?




From Germany to all brave Indonesian women out there,


Fetriza Rinaldy





Tentang Traveling dan Toleransi

Di antara kita mungkin sudah mengetahui berita-berita mengenai betapa mirisnya prosesi Waisak tahun ini di Candi Borobudur yang sayangnya 'dinodai' oleh tingkah laku beberapa turis yang kurang menghargai jalannya ibadah. Beberapa dari mereka membuat rangkaian acara yang seharusnya berjalan sakral menjadi terusik, bahkan menimbulkan ketidaknyamanan bagi umat yang ingin beribadah. 

Hal ini mengingatkan saya atas kejadian beberapa bulan lalu. Di antara kita tentu masih ingat booming film 5 CM yang menyuguhkan pesona alam titik tertinggi di Pulau Jawa, Mahameru. Setelah itu, entah kebetulan atau tidak, seakan-akan orang-orang berbondong-bondong ingin merasakan  keindahan Semeru, Ranu Kumbolo, dan menjejakkan kaki di puncak tertinggi di Jawa tersebut dengan mata kepala sendiri. Tidak ada yang salah. Justru di satu sisi hal ini berdampak positif, membangkitkan rasa cinta pemuda-pemudi Indonesia akan tanah airnya sendiri. Menyadarkan kita bahwa bumi Indonesia adalah salah satu ciptaan Tuhan yang paling indah karena dikaruniai bentang alam yang begitu luar biasa, yang belum tentu ditemukan di tempat lain. 

Namun sayangnya, rasa keingintahuan dan semangat yang menggebu-gebu tersebut tidak dibarengi dengan rasa 'tanggung jawab' dan 'toleransi'. Pendaki Semeru membludak bahkan hampir mencapai angka dua ribu, padahal setahu saya kapasitas Semeru hanyalah sekitar 500-600 orang. Hal ini sempat membuat Semeru ditutup untuk umum selama beberapa bulan untuk proses 'pemulihan'. 

Saya sedikit banyak belajar mengenai konsep ekologi dan bentang alam selama di bangku kuliah. Alam dan semesta bukan benda mati, mereka memiliki daya dukung dan threshold-nya masing-masing untuk mempertahankan keberlangsungannya, termasuk gunung. Gunung-gunung yang pengelolaannya sebagian besar termasuk ke dalam Taman Nasional memiliki kapasitas maksimal jumlah pengunjung/pendaki. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga keberlangsungan dan keseimbangan ekosistem yang berada di dalamya.

Logikanya, semakin banyak pengunjung, semakin banyak logistik yang dibawa, maka akan semakin banyak pula sampah yang dihasilkan. Belum lagi tidak semua pendaki benar-benar memahami etika naik gunung yang baik dan benar. Naik gunung tidak mudah. Mungkin terlihat mudah, namun percayalah, naik gunung tidak sama seperti jalan-jalan biasa. Banyak sekali hal-hal yang harus diperhatikan, mulai dari persiapan perjalanan, peralatan yang memenuhi standar, logistik, hingga etika selama berada di dalamnya.

Saya sendiri kadang sedih melihat beberapa orang di sekitar saya hanya 'ikut-ikutan' arus. Ingin naik gunung, tapi tidak memperhatikan keselamatan diri sendiri dan kenyamanan sekitar. Membawa peralatan dan logistik yang sangat minim, membuang sampah seenaknya seakan-akan gunung adalah tempat sampah raksasa, merusak jalur pendakian, merusak vegetasi, dan masih banyak lagi. Sangat disayangkan masih banyak yang beranggapan bahwa naik gunung sama halnya dengan 'rekreasi' dan 'wisata'. Padahal lebih dari itu, naik gunung itu adalah keseimbangan, antara diri sendiri, orang lain, alam, dan yang menciptakannya. Kalau pendaki-pendaki dadakan ini tidak paham keselamatannya sendiri, bagaimana ia bisa memikirkan linkungan di sekitarnya?

Persepsi sebagian besar dari kita selama ini adalah bahwa urusan konservasi dan kelestarian alam semata-mata merupakan tugas dan kewajiban yang berwenang, seperti pengelola Taman Nasional atau LSM. Kita hanya tinggal 'menikmati'. Padahal kitalah yang berada di garis terdepan untuk dimintai pertanggungjawaban.

Kejadian Candi Borobudur dan Mahameru sungguh benar-benar mencoreng dunia 'traveling'. Dunia yang sedang booming dan banyak diperbincangkan saat ini. Semua orang tentu bangga dengan cap 'traveler' pada diri mereka. Bermodalkan kamera DSLR dan ransel, maka predikat 'traveler' sudah 'resmi' disandang. Padahal menjadi seorang traveler atau pendaki gunung tentu tidaklah mudah. Ada tanggung jawab di dalamnya. Ada rasa cinta, toleransi, dan yang pasti, ada rasa memiliki di sana. 

Tidak ada yang salah dengan menyebarkan semangat jalan-jalan atau traveling. Semua orang berhak melakukannya. Namun traveling seharusnya bisa menambah kecintaan dan rasa memiliki, bukan hanya sekedar 'menikmati' lalu ditinggalkan begitu saja. Semangat traveling seharusnya disertai dengan catatan-catatan, bukan bebas tanpa batas. Sebelum melakukan perjalanan, sempatkanlah melakukan persiapan. Kenali dan pelajari daerah yang akan dituju, bersiaplah. Ketika sampai, hormati dan berlakulah sesuai etika, patuhi aturan lokal, lalu nikmatilah. 

Seegois itukah kita sampai hanya mau menikmati sendiri tanpa peduli orang lain? Seegois itukah kita sampai hanya mau menikmati sendiri tanpa peduli apakah nanti anak-cucu kita masih sempat menikmatinya?

Selamat jalan-jalan.


Salam dari Puncak Mahameru

Menulis

Halo!

Saya masih ada di kantor malam ini. Beberapa kubikel sudah tidak berpenghuni lagi, monitor sudah mati, bahkan beberapa lampu di meeting room dan pantry sudah dimatikan. Hanya ada saya dan beberapa teman yang kebetulan sedang mengerjakan report. 

Saya termasuk jarang lembur. Ini pun karena kebetulan di awal tahun ini saya lebih banyak di Jakarta, walaupun kemarin sempat kembali ke site beberapa hari. Saya bosan, jadilah saya nulis-nulis ini di tablet. Saya baru sadar, di setiap perangkat yang saya miliki, saya punya draft-draft tulisan yang saya ketik kapanpun dan dimanapun. Isinya? Macem-macem. Dari pemikiran serius sampai curhat.

Saya mencoba merunut sejak kapan saya suka menulis. Let's plunge into memories.

Waktu SD saya suka sekali baca cerpen di Majalah Bobo. Saya langganan Bobo dan yang paling saya tunggu adalah cerpennya. Saya masih ingat betul Majalah Bobo terbit tiap hari Kamis, di beberapa occasion ada edisi khusus dengan halaman lebih tebal (dan juga berarti cerpennya lebih banyak). Di situlah saya mulai (sok-sokan) nulis cerpen sendiri khas anak-anak. Waktu itu saya masih pake tulisan tangan di kertas folio bergaris! Saya banyak sekali membuat naskah cerpen, sebenernya inti ceritanya ya itu-itu aja. Sampai suatu hari Mama menemukan salah satu naskah ini dan saya malunya bukan main. Singkat cerita, satu dari cerpen-cerpen imut itu (akhirnya) pernah dipublish di Majalah Bobo. 

Waktu SMP lebih gak waras lagi. Saya bikin mini novel dengan genre romantic comedy gitu ceritanya. Trus saya print sendiri dan saya bagi-bagiin ke beberapa teman sekelas saya dan maksa mereka untuk membacanya hahaha. Oh iya, mulai di sini saya mulai suka membaca novel yang sedikit lebih dewasa.

Waktu SMA, sempat skip. Karena lebih banyak main di luar, banyak distraksi di masa-masa ini. Tapi saya sempat nulis-nulis untuk buletin internal di organisasi saya.

Waktu kuliah. Nah, inilah masa-masa kembalinya saya suka nulis-nulis lagi. Mungkin karena kuliah jauh dari Jakarta dan rumah, maka apalagi yang bisa saya lakukan kalau sudah ada di kamar dan berhadapan dengan laptop? 

Di tingkat pertama kuliah, akhirnya saya membuat blog ini. Tahun 2013 ini, blog ini akan berulang tahun yang ke-5! Post di masa-masa itu kebanyakan daily life (dan pernah sedikit curhat karena putus sama pacar), but as I grew up, saya banyak nge-post tentang isu-isu sosial. Mungkin juga karena pengaruh idealisme cap gajah Bandung yang kala itu dijejali dengan aktivitas himpunan, keluarga mahasiswa, beserta kajian-kajiannya. 

As time goes by, seiring juga dengan bertambahnya cerita-cerita perjalanan saya (saya kuliah di jurusan yang banyak field tripnya), saya mulai banyak memasukkan foto-foto perjalanan. Beberapa kali saya pernah menulis tentang trip review. Sempat vakum beberapa bulan tidak mengisi blog, karena kesibukan ini dan itu. 

Saya punya beberapa teman yang hobi menulis, dan saya sering mengagumi tulisan teman-teman saya sendiri (beberapa dari mereka blognya saya tautkan di sini). Dulu saya sempat beberapa kali diajak temu blogger, tapi saya masih belum cukup pede saat itu. Saya cuma mikir, blog ini cuma untuk konsumsi pribadi. 

Tapi mungkin juga tidak, saya sempat ngecek blog stat saya bulan lalu. Hasilnya cukup mengejutkan. Cukup banyak statistiknya, dan yang mostly dibaca memang post-post yang sifatnya general seperti isu sosial dan cerita/foto perjalanan. 

Saya masih suka menulis sampai sekarang. Karena kadang menulis itu obat, dan membaca adalah vitaminnya. Saya lebih banyak menulis di blog ini dan di Jurnal Hijau. Saya cukup bahagia karena kekonsistenan menulis di blog ini, blog ini sudah beranjak dari balita. 

Tapi, saya bukan penulis profesional atau penulis yang sudah diakui kapabilitasnya. Saya hanya senang membagi sesuatu lewat tulisan. Ada beberapa hal yang susah untuk saya ungkapkan, tapi begitu dituangkan dalam tulisan, semuanya mengalir begitu saja. 

Saya mudah terpikat dengan rangkaian kata-kata dan bagaimana seseorang menyampaikan jalan pikirannya melalui tulisan. Menuangkan perasaan/pikiran melalui tulisan itu bukan sesuatu yang mudah, entah kenapa saya selalu beranggapan orang-orang yang suka menulis memiliki kecerdasan emosional yang lebih. Semua orang bisa menulis, tapi tidak semua orang mampu merangkai dan memberi alur atas apa yang mereka ingin sampaikan melalui tulisan. Menurut saya, menyuarakan sesuatu melalui tulisan bukan berarti tidak berani menyampaikannya secara langsung, tapi percayalah sang penulis sedang memadukan apa yang mereka lihat, mereka dengar, dan mereka rasa dalam hati mereka. Sehingga keluarlah sesuatu yang memang ingin, benar-benar mereka utarakan.

That's what fascinates me the most.




Indonesia Ring of Fire : Potensi Geothermal Indonesia

Isu efisiensi energi yang semakin marak dibicarakan akhir-akhir ini meninggalkan tanda tanya. Sudah sejauh mana negara kita mampu mengelola sumber energi yang ada dan sesiap apa negara kita untuk membangun sumber energi baru? [...]