Showing posts with label trips. Show all posts
Showing posts with label trips. Show all posts

Akhirnya Skandinavia






Traveling ke negara-negara Skandinavia selalu masuk dalam bucket list saya dan Norwegia selalu jadi negara pertama yang wajib dikunjungi dibanding negara-negara saudaranya yang lain. Wacana mengunjungi Skandinavia sudah ada sejak saya tau akan tinggal di Jerman dalam beberapa tahun ke depan (haha!). Pokoknya selama tinggal di benua biru ini harus sempat ke Skandinavia (walaupun tau setelah itu akan langsung jatuh miskin). Namun saat itu hanya jadi sekedar wacana saja karena saya harus cari jadwal libur kuliah (udah bela-belain ke Skandinavia, rugi banget kalo cuma 3-4 hari, kan?), harus cari tiket murah (maklum, mahasiswa), dan yang paling utama adalah mempersiapkan tabungan yang cukup.

Wacana akhirnya berubah menjadi rencana. Perburuan tiket Munich - Oslo pun dimulai. Mulai dari cek web tiap detik, dateng ke agen travel, sampe datengin Munich Airport semua dilakuin, demi dapet tiket semurah-murahnya. Tiket sudah di tangan, rasanya seneng luar biasa. Nelfon Ayah buat ngabarin, dia malah balik nanya: "Norway aja? gak ke negara tetangganya yang lain sekalian?". Woohoo, your wish is my command, Daddy!

Rencana awal adalah mengejar Aurora Borealis di Tromsø, kota di utara Norwegia yang sudah masuk lingkar Arktik, yang katanya hanya berjarak sekitar 350 km dari pusat kutub utara. Disinilah, menurut review-review traveler hardcore, Aurora dapat terlihat. Namun apa daya, rencana tinggal rencana. Setelah berpikir matang-matang terutama dari segi keuangan, saya membatalkan rencana ke Tromsø dan menggantinya dengan mini tour keliling Norwegia dan Swedia saja. Semoga masih diberi kesempatan melihat Aurora di lain waktu, amin!

Setelah berunding dan ngecek ini itu, diputuskanlah bahwa saya (dan teman) akan menghabiskan waktu 9 hari (full, ga pake leyeh-leyeh) di 4 kota (Oslo, Stockholm, Stavanger, dan Bergen), 2 negara. Persiapan pun kami lakukan, mulai dari mengontak teman-teman di sana sampai memilih 3 baju (saja) untuk 9 hari perjalanan (Ooops sori buat yang harus selalu geret-geret koper, kita mah anaknya ranselan aja :p).

Selain berkeliling kota, pergi dari satu taman ke taman lain, mengejar sunset di pulau kecil di Stockholm, dan mengunjungi istana, akhirnya kami sampai juga di Preikestolen yang terkenal itu. Menyusuri Lysefjord walaupun angin laut utara menerjang hebat dan minum lelehan gletser. Jangan tanya berapa uang yang kami "ikhlasin" buat nyampe ke Fjord, mending ga makan deh daripada udah jauh-jauh ke Norway tapi ga ke Fjord #prinsip. Alhamdulillah, satu bucket list berhasil terpenuhi.




Lysefjord

Menyusuri pegunungan es di atas ketinggian lebih dari 1200 meter selama 7 jam perjalanan Bergen - Flåm - Oslo yang kata orang adalah Europe's Top Scenic Train Routes, benar-benar bikin merinding. Saya ogah tidur barang semenit pun daripada harus kelewatan pemandangan yang bikin nganga lebar.


Masuk ke National Gallery Oslo dan memandangi lukisan-lukisan Edvard Munch. Berpose di depan lukisan "Scream" karya Edvard Munch yang terkenal itu. Membeli kartupos dari setiap kota untuk koleksi pribadi dan untuk dikirim ke orang-orang kesayangan, menerjang badai angin bersalju yang datang tanpa permisi di Stockholm, nyasar ke taman remang-remang, dan memandangi North Sea yang tanpa ujung.

Entah ada daya tarik apa tentang Skandinavia yang membuat saya sangat ingin kesana dari dulu. Mungkin, seperti kata seorang teman: "Kamu ga akan rela menghabiskan uang terakhirmu kalau bukan karena itu adalah mimpi yang ingin kamu wujudkan."

Ketika saya akhirnya menyusuri Fjord, saya berbicara pada diri saya sendiri: "Akhirnya sampai di sini". Saat itulah saya sadar, satu mimpi telah menjadi kenyataan.

Sunset catcher di Stockholm

Stavanger



Vipiteno




I was sitting on the bus on my way to Venice from Munich when I found this beauty through my window. A small town in Northern Italy called Vipiteno, the snow-covered mountains, the winding road, and the sun. A lesson learned, to not ignore small things or anything in between.


because it does matter.

Tentang Traveling dan Toleransi

Di antara kita mungkin sudah mengetahui berita-berita mengenai betapa mirisnya prosesi Waisak tahun ini di Candi Borobudur yang sayangnya 'dinodai' oleh tingkah laku beberapa turis yang kurang menghargai jalannya ibadah. Beberapa dari mereka membuat rangkaian acara yang seharusnya berjalan sakral menjadi terusik, bahkan menimbulkan ketidaknyamanan bagi umat yang ingin beribadah. 

Hal ini mengingatkan saya atas kejadian beberapa bulan lalu. Di antara kita tentu masih ingat booming film 5 CM yang menyuguhkan pesona alam titik tertinggi di Pulau Jawa, Mahameru. Setelah itu, entah kebetulan atau tidak, seakan-akan orang-orang berbondong-bondong ingin merasakan  keindahan Semeru, Ranu Kumbolo, dan menjejakkan kaki di puncak tertinggi di Jawa tersebut dengan mata kepala sendiri. Tidak ada yang salah. Justru di satu sisi hal ini berdampak positif, membangkitkan rasa cinta pemuda-pemudi Indonesia akan tanah airnya sendiri. Menyadarkan kita bahwa bumi Indonesia adalah salah satu ciptaan Tuhan yang paling indah karena dikaruniai bentang alam yang begitu luar biasa, yang belum tentu ditemukan di tempat lain. 

Namun sayangnya, rasa keingintahuan dan semangat yang menggebu-gebu tersebut tidak dibarengi dengan rasa 'tanggung jawab' dan 'toleransi'. Pendaki Semeru membludak bahkan hampir mencapai angka dua ribu, padahal setahu saya kapasitas Semeru hanyalah sekitar 500-600 orang. Hal ini sempat membuat Semeru ditutup untuk umum selama beberapa bulan untuk proses 'pemulihan'. 

Saya sedikit banyak belajar mengenai konsep ekologi dan bentang alam selama di bangku kuliah. Alam dan semesta bukan benda mati, mereka memiliki daya dukung dan threshold-nya masing-masing untuk mempertahankan keberlangsungannya, termasuk gunung. Gunung-gunung yang pengelolaannya sebagian besar termasuk ke dalam Taman Nasional memiliki kapasitas maksimal jumlah pengunjung/pendaki. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga keberlangsungan dan keseimbangan ekosistem yang berada di dalamya.

Logikanya, semakin banyak pengunjung, semakin banyak logistik yang dibawa, maka akan semakin banyak pula sampah yang dihasilkan. Belum lagi tidak semua pendaki benar-benar memahami etika naik gunung yang baik dan benar. Naik gunung tidak mudah. Mungkin terlihat mudah, namun percayalah, naik gunung tidak sama seperti jalan-jalan biasa. Banyak sekali hal-hal yang harus diperhatikan, mulai dari persiapan perjalanan, peralatan yang memenuhi standar, logistik, hingga etika selama berada di dalamnya.

Saya sendiri kadang sedih melihat beberapa orang di sekitar saya hanya 'ikut-ikutan' arus. Ingin naik gunung, tapi tidak memperhatikan keselamatan diri sendiri dan kenyamanan sekitar. Membawa peralatan dan logistik yang sangat minim, membuang sampah seenaknya seakan-akan gunung adalah tempat sampah raksasa, merusak jalur pendakian, merusak vegetasi, dan masih banyak lagi. Sangat disayangkan masih banyak yang beranggapan bahwa naik gunung sama halnya dengan 'rekreasi' dan 'wisata'. Padahal lebih dari itu, naik gunung itu adalah keseimbangan, antara diri sendiri, orang lain, alam, dan yang menciptakannya. Kalau pendaki-pendaki dadakan ini tidak paham keselamatannya sendiri, bagaimana ia bisa memikirkan linkungan di sekitarnya?

Persepsi sebagian besar dari kita selama ini adalah bahwa urusan konservasi dan kelestarian alam semata-mata merupakan tugas dan kewajiban yang berwenang, seperti pengelola Taman Nasional atau LSM. Kita hanya tinggal 'menikmati'. Padahal kitalah yang berada di garis terdepan untuk dimintai pertanggungjawaban.

Kejadian Candi Borobudur dan Mahameru sungguh benar-benar mencoreng dunia 'traveling'. Dunia yang sedang booming dan banyak diperbincangkan saat ini. Semua orang tentu bangga dengan cap 'traveler' pada diri mereka. Bermodalkan kamera DSLR dan ransel, maka predikat 'traveler' sudah 'resmi' disandang. Padahal menjadi seorang traveler atau pendaki gunung tentu tidaklah mudah. Ada tanggung jawab di dalamnya. Ada rasa cinta, toleransi, dan yang pasti, ada rasa memiliki di sana. 

Tidak ada yang salah dengan menyebarkan semangat jalan-jalan atau traveling. Semua orang berhak melakukannya. Namun traveling seharusnya bisa menambah kecintaan dan rasa memiliki, bukan hanya sekedar 'menikmati' lalu ditinggalkan begitu saja. Semangat traveling seharusnya disertai dengan catatan-catatan, bukan bebas tanpa batas. Sebelum melakukan perjalanan, sempatkanlah melakukan persiapan. Kenali dan pelajari daerah yang akan dituju, bersiaplah. Ketika sampai, hormati dan berlakulah sesuai etika, patuhi aturan lokal, lalu nikmatilah. 

Seegois itukah kita sampai hanya mau menikmati sendiri tanpa peduli orang lain? Seegois itukah kita sampai hanya mau menikmati sendiri tanpa peduli apakah nanti anak-cucu kita masih sempat menikmatinya?

Selamat jalan-jalan.


Salam dari Puncak Mahameru

Yogyakarta

Surprisingly, Yogyakarta was the place where I opened my eyes for the first time in 2013. The first destination before going back to Borneo later. I don't know that much about this city, but everybody knows the beauty inside it. A quiet charm, immortal history. 

Please remind me to return.







Di Hyang // Dieng (Abode of The Gods)

There was no definite reason of why I came here. The thought of standing 2000 meters above sea level  in the highest village in Java was enough. So that day, I and some of my college friends took our working day off. Its kinda difficult for us to make our trip together since all of us are busy with our daily activities. We trapped in the office, meetings, business, work our asses off on site, etc, etc. So I decided to take a little trip, in a narrow time and Dieng is just the right option.

We rode our way to Wonosobo, the nearest town from Dieng. It takes 12 hours driving (we got almost 14 hours due to the long weekend's traffic jam, unfortunately) from Jakarta to Wonosobo through the track of North Java Sea. We reached Wonosobo the next morning. Quiet and clean town, that was the first thing that came out from my mind. A cold breeze greeted us as we entered Dieng. My eyes jerked up as the view of misty hills appeared in my sight. You know that I have a crush with mountains since I don't know when. My eyes were really pampered. 

As I know, Dieng is a plateau formed by a geological activity. It made a caldera caused by the collapse of land following a volcanic eruption. This place reminds me of my visit to Mt.Batur (Bali) and Mt.Bromo (East Java) few years ago. A terrific geological activity has made a very beautiful landscape for those places.



There were many spots we visited during our time in Dieng. Dieng is also a location for Hindu Temples (known as the oldest Hindu temples in Java, correct me if wrong). To be honest, I was not too impressed with the temples. It's good but not stunning. Its beautiful landscape that chiefly attracts me. Imagine the lakes, craters, farm fields, hills, mountains, all in one. A soothing escape from urban life where you can breathe as deep as you want.

The best part of my trip there was the time when we watched a golden sunrise at the top of Bukit Sikunir. Thank God the weather was good so we can see the sun clearly by the side of Mt. Sindoro and Mt.Merapi as background. A tinge of gold appeared from the dark in the huge sky, surrounded by the clouds. It was splendid I must say, being at the highest village in Java, I felt literally closer to the clouds. The view was just...breathtaking. That was not my first time seeing sunrise from the height, but I must say this one is my favorite of all (I have posted some pictures in the previous posts in this blog, see here and here ).




Once I got a proper signal after witnessing the incredible sunrise there, I wrote a line on my twitter account: 

I am sure that Indonesia is one of the most beautiful countries to catch the sunrise (and sunset too)

Catching the sunrise and watching it from the height should be included in everyone's bucket list, wherever the place, I think. Feel the closest moment you have ever been to the top of the world.

Shortly, it was all worth the hassle. I have just dropped my heart in that place.


Before Sunrise II (Dieng, 2012)

FR



and to stand bravely,
to fight valiantly,
to grow wisely,
up in the sky

Dataran Tinggi Dieng
Central Java Indonesia
December, 2012

Before Sunrise (Dieng, 2012)









A cold dark night
A wind that blew the trees,
and suddenly turned into something horrific

Desire to find the bright side

Tinge of gold appeared in the sky
Trying to calm everyone, 
that everything will be alright
The sunrise kissed the dark sky, 
turned into a huge blushing face
The soothing breeze
The ray of light,
that strengthened the soul,
and warmed the heart
Filled the void part
Then a dark shadow almost lost

I know the night has gone
It was over
I pleased to let it go
I know there's a huge hope,
If I follow the sun,
and appreciate the sky
To be grateful for what I have around
and remember what I have said,
before sunrise

Dataran Tinggi Dieng
Central Java, Indonesia
December, 2012




October's Trip



Some pictures from my last trip, not too far from here but it was really fun, adventurous (lost, almost got hit by a bus, spent 4 hours in a bus with a mad man, walking at 2 am in the morning in the middle of drunk men, crossed the border line, plane turbulence, you name it!). As for me, travelling is a choice. It's not an achievement, it is indeed a process to find yourself, to learn, to appreciate things, and in the end, to find your way home.










Almost everyone has their dream destination, I'm on my way to see the exotic Nepal, skiing in the northern hemisphere, or just enjoying sunset along Borneo's highway with you.


Lights


Being away from home is not only about finding another home, but also how to survive in the dark and find the lights.

Lights on the road 
Balikpapan - Bontang, East Borneo

Because traveling is watching people passing by, but trying to keep you stay, at least, on my mind.



Suvarnabhumi Airport, Bangkok, 2011 


Bridge to Pulau Menjangan, Bali Barat.
Menjangan in Indonesian means "Deer". This small island is a part of Bali National Park and well known for its magnificent underwater world, one of the best diving sites with beautiful coral reefs in Bali. Photo taken in 2009.


Footprints

"You don't take a photograph, you make it"
-Ansel Adams-

Bali Barat, 2009

Ujung Genteng, Jawa Barat, 2010

Near Pulau Panjang, Banten, 2011

Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat, 2011

Phuket Town, Thailand, 2011

Sungai Cikapundung, Bandung, 2010

Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur, 2010

 Gunung Batur, Kintamani, Bali, 2009